Rindu Senyum Bunda
Senin, 29 Juni 2009 - 23:14:30 WIB
by : Aini Aryani
Kategori: Sastra
- Dibaca: 263 kali
“Mbak Elvi nggak mau pulang lagi ya Idul Adha ini?“
“Iya, Mit. Soalnya materi-materi yang belum disampaikan masih banyak. Apalagi bentar lagi UAS.” paparnya. Kuhembuskan nafas sebal, lalu mencoba hubungi Mas Arya.
“Assalamualaikum… lebaran Qurban tahun ini Mas pulang ke Indonesia ya. Kan udah hampir tujuh tahun nggak pulang.”
“Nggak janji, Dek. Kemungkinan Idul Adha nanti aku udah di Mekah meliput aktivitas ibadah haji di Tanah Suci. Tapi, lihat ntar deh ya.” jawabnya. Lagi-lagi aku menghela nafas.
Beginilah kalau punya kakak-kakak super sibuk. Mbak Elvi seorang dosen di Universitas Samratulangi, Manado. Lima tahun lamanya belum pernah pulang. Sedangkan Mas Arya seorang jurnalis yang kerjaannya liput sana liput sini.
***
Kuperhatikan Bunda yang tengah menikmati sore bersama tiga kucing piaraannya. Kadang beliau mengelus, memangku, bahkan mendongeng sebelum akhirnya kucing-kucing itu lelap, seakan-akan mereka memahami bahasa manusia.
Aku mendekat lalu berdehem. Namun sepertinya Bunda terlalu menikmati suasana bersama kucing-kucing mungil itu, hingga kehadiranku sama sekali tak disadari. Akupun beranjak menuju ruang tamu.
Kuamati ruangan ini. Oh…ternyata debu jendela depan sangat tebal. Maklum Bik Minah, pembantu kami sedang pulang kampung. Mataku iseng mengamati kalender. “Oh iya, Bunda kan ulang tahun tanggal 2 November. Berarti seminggu lagi Bunda ultah dong.” Tiba-tiba satu ide muncul dibenakku. “Ctekk..!!” Kujentikkan jari. Lalu menuju telfon di sudut ruang tamu.
“Assalamualaikum, Mbak Elvi inget kan kalo 2 November ini ultah Bunda? Nggak apa-apa deh Idul Fitri nggak pulang. Tapi waktu ultah Bunda, Mbak dateng ya? Bunda pasti seneng banget kalo Mbak Elvi dan Mas Arya bisa dateng.” rajukku.
“Mmm…Mit, kebetulan minggu depan suami Mbak ada tugas ke Semarang, jadi kemungkinan Mbak bisa sekalian mampir ke Surabaya.” Aku hampir terlonjak saking girangnya. Yess. kemudian mencoba menghubungi Mas Arya.
"Ada Apa, Mit?" Tanya suara di seberang.
“Mas Arya inget kan kalo 2 November ini ultah Bunda? Mitha pengen bikin kejutan nih. Mas usahain pulang ya, biar Bunda seneng. Nggak apa-apa deh Idul Adha nanti nggak bisa dateng. Tapi waktu Bunda ultah, dateng ya? Pliiizz..!!” rajukku.
”Mmm…bentar, aku lihat schedule dulu,” Kutunggu Mas Arya beberapa menit. “Tanggal segitu aku free. Insya Allah aku bisa dateng” jawabnya. Mataku berbinar.
Segera kurancang rencana selanjutnya. Semoga kami dapat menikmati senyum Bunda lagi. Ya, setelah ayah meninggalkan kami untuk selamanya, Bunda terlihat jarang tersenyum. Amat jarang malah. Bahkan selalu terlihat murung. Hampir seluruh waktu dihabiskannya bersama tiga kucing mungil itu, seakan Bunda selalu ingin di dekat mereka. Bik Minah pernah menelfonku tengah malam hanya karena khawatir dengan keadaan Bunda yang sakit-sakitan karena mogok makan sebab salah satu kucingnya sakit. Tanpa kami sadari, kucing-kucing itulah yang nantinya akan membawa satu masalah dalam keluarga kami.
***
Malam 2 November …Ultah Bunda,
Kutata seluruh ruangan serapi mungkin. Korden dan taplak mejapun kuganti dengan warna hijau muda, warna kesukaan Bunda. Setelah merapikan jilbab, kudengar suara ketukan pintu. Kupikir kedua kakakku. Tapi dugaanku meleset. Yang datang hanyalah kiriman hadiah. Tepat setelah kutanda tangani tanda terimanya, telfon berdering,
“Assalamualaikum. Dek, aku ada urusan mendadak. Jadi, nggak bisa dateng. Tapi tadi aku telfon rekanku disitu untuk mengirim hadiah buat Bunda. Maaf ya, Dek.” Suara Mas Arya membuat lututku lemas seketika. Kututup gagang telfon dengan gelisah.
Lagi-lagi telfon itu berdering. Kuangkat gagang telfon itu tanpa gairah.
“Assalamualaikum. Dek, tadi pagi Mbak mau berangkat ke Surabaya, tapi tiba-tiba dapet info kalo besok ada rapat penting di kampus. Jadi, Mbak langsung ke Jakarta untuk terbang ke Sulawesi lagi. Maaf ya, Dek.” Aku hampir menangis mendengar penjelasan Mbak Elvi. Ya Allah, mengapa semuanya terjadi di luar rencana?
Dari kamar Bunda, samar-samar kudengar suara merdu melantunkan kalam-Nya.
Bunda, maafkan Mitha yang belum berhasil mengembalikan senyum itu.
Kuhempaskan tubuhku di sofa, lemas kusandarkan punggung yang terasa pegal setelah seharian menyiapkan ini dan itu sendirian karena Bik Minah masih di kampung. Mataku bersirobok dengan foto mendiang ayah. Masih segar di ingatanku ketika kami menikmati indahnya senja di suatu sore sambil menikmati teh hangat buatan Bunda, kata-kata ayah;
“Mit, Bunda kalian bagai telaga bening yang menyejukkan, yang selalu mengundang kita untuk duduk di tepinya, merenung dalam bayang air jernihnya, atau membasuh wajah menghilangkan resah, bahkan berenang di dalamnya ketika lelah, meski telaga itu berkecipak karenanya, atau keruh…atau kotor…”
***
Bik Minah kembali dari kampung. Akupun bersiap-siap kembali ke Jakarta untuk kembali menekuni materi-materi kuliahku. Kuketuk pintu kamar Bunda. Tak ada jawaban. Pelan kubuka pintu, ternyata beliau sedang beristirahat. Tak jauh dari tempat tidurnya, kulihat tiga kucing mungil yang juga pulas di atas ranjang empuk. Jadi aku hanya menitip pesan lewat Bik Minah.
Namun, sampai di Jakarta, Bik Minah kembali menelfonku,
“Non Mitha, celaka, Non..celaka…!!” Suaranya terdengar panik.
“Ada apa, Bik?” tanyaku penasaran.
“Anu, Non. Tadi pagi kucing-kucing itu ditabrak mobil waktu bermain di jalan raya…Waduh…ya`opo iki…”suara Bik Minah terdengar panik.
“Terus Bunda gimana, Bik?” tanyaku khawatir.
“Lha itu dia, Non. Setelah melihat tiga kucingnya mati, Ndoro Putri nangis ndak berhenti-berhenti, lalu pingsan. Terus, Ndoro selalu ngigo ndak karuan. Waktu sudah sadar, tatapannya kosong terus. Perkataan Bik Minah ndak pernah diperdulikan. Bahkan selalu mengulang-ulang kalimat yang sama. Ndroro bilang…” Kata-kata Bik Minah terpotong.
“Bilang apa, Bik?” Tanyanyaku yang makin penasaran.
"Ndoro putri ngigo begini: ‘Elvi, Arya, Mitha jangan susul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda sendirian disini…’ ...begitu ngigo-nya Ndoro, Non. Waduh…Bik Minah bingung mau ngapain. Non Mitha pulang ya, Non.” katanya masih dengan suara bergetar.
Segera aku berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Juanda setelah meminta Bik Minah membawa Bunda ke rumah sakit. Jangan-jangan Bunda benar-benar menganggap tiga kucing itu sebagai Mbak Elvi, Mas Arya, dan aku?!
Bunda, mengapa senyum itu semakin menjauh? Mengapa ia terlalu sulit tuk dihadirkan kembali?
***
Bunda tengah terlelap ketika aku tiba. Dari wajah teduh yang kian menua itu aku bisa melihat gurat kecewa, kesedihan, juga kerinduan mendalam disana. Kubuka diary, lalu perlahan kugoreskan penaku di lembaran-lembaran biru itu;
Bunda…
Senyum itu pergi lagi, semakin jauh, entah dimana ia bersembunyi
Andainya samudera atau rimbun hutan yang sembunyikan ia
Ingin Nanda selami samudera itu
Atau mengoyak ranting-ranting rimbun hutan itu
Meski tangan ini ikut terkoyak karenanya
Bunda…
Masih segar membekas di ingatan ini
Ketika kau ajari kami ‘alif, ba’, ta’ dengan kefashihan lisanmu
Agar kami kelak dapat menyelami lautan hidayah-Nya
Ketika di malam tua tangisan kami pecah, dirimu terbangun resah
Membunuh rasa kantukmu demi menghalau gelisah kami
Pun ketika Nanda jatuh dari peraduan dan merengek
Kau raih Nanda ke pelukan kasihmu, seraya meneteskan airmata
Seakan kaulah yang tengah merasakan sakitnya raga
Namun...
Ketika kami beranjak dewasa, dan kau tengah di usia senja
Kaki-kaki mungil kami dulu, kini tak lagi dapat lagi kau sentuh
Tangan-tangan mungil kami juga tak dapat lagi kau genggam
Kami sibuk mengejar asa sendiri, larut dalam ego
Tak sadar bahwa ada telaga bening yang tengah merindu
Yang ingin meredam resah, menghilangkan gelegak duka
Telaga bening itu adalah engkau, Bunda.
Kututup diaryku perlahan. Kutahan mataku yang berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba, “Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda….!!!” igau Bunda. Mengulang kalimat itu berkali-kali. Aku panik. Segera kupanggil suster.
Setelah keadaan Bunda mulai membaik, kudekati beliau yang tengah menatap jendela. Tatapannya kosong. “Bunda, ini Mitha…” bisikku. Tak ada respon. “Bunda, ini Mitha, puteri Bunda.” Ulangku. Beliau menangis sesenggukan. Tapi akhirnya tangis itu pecah, semakin kencang, bahkan meraung…
“Tidak…Mitha juga ditabrak mobil itu bersama Elvi dan Arya… huu… huu.. anak-anak Bunda menyusul ayahnya…huu…” Raungan bunda membuatku kaget. Akhirnya tangisku pun pecah.
“Tidak, Bunda… yang mati itu hanya kucing…bukan anak-anak Bunda…hanya kucing, Bunda.” Aku harus berhasil meyakinkan Bunda. Namun Bunda tetap meraung. Hatiku semakin galau, seiring airmataku yang semakin deras.
“Bunda, ini Mitha, putri Bunda. Kucing-kucing itu cuma hewan piaraan Bunda. Bunda masih ingat kan waktu dulu Mitha mecahin kaca tetangga, Bunda marah dan ngurung Mitha dalam kamar. Terus, waktu Mitha sakit typus, Bunda seharian nemenin Mitha di kamar, gendongin Mitha setiap ke kamar mandi, nyuapin Mitha setiap makan…masih ingat kan, Bunda…ini Mitha, anak Bunda.” celotehku sambil terus menangis, berusaha mengembalikan Bunda ke masa-masa manis dulu.
Tangis Bunda mereda lalu terdiam. Kubiarkan Bunda menenangkan diri. Lama, hingga akhirnya beliau terlelap.
Kutatap mata Bunda lekat. Aku harus berhasil meyakinkan Bunda bahwa aku, Mbak Elvi dan Mas Arya-lah darah dagingnya, bukan kucing-kucing itu. Aku tidak akan membiarkan tiga hewan itu menggantikan tempat kami di singgasana hati Bunda.
Akupun harus meyakinkan kedua kakakku bahwa Bunda butuh mereka disini, setidaknya saat ini. Juga bahwa hadiah-hadiah yang selalu mereka yakini dapat membahagiakannya, takkan pernah mampu menggantikan kehadiran mereka disisi Bunda. Bagi Bunda mereka terlampau berharga tuk digantikan dengan kebendaan, karena putra putrinya adalah anugerah terindah yang tak terbeli. Kutatap ponselku, kemudian menghubungi 2 nomor yang sudah kuhafal diluar kepala.
Bunda masih terlelap ketika Mbak Elvi dan Mas Arya datang. Mataku berbinar saat melihat Bunda membuka mata bersama kami sampingnya. Seketika itu, kami serentak memeluk wanita terkasih itu…Kini kami disini untuk Bunda.[]
Tulisan diatas pernah dipublikasikan di www.warnaislam.com,
pernah pula disertakan dalam Kumcer "Sebening Nama Mbak" diterbitkan oleh FLP Pakistan tahun 2007.
Terkait
14 Komentar :
siti khadizah
love you
miss you
bunda forever
siti khadizah
missed u mom.....
kepergian bunda adalah awal dari penderitaanku,,,awal dari tangisan ini, awal dari kesakitan ini,,,
knapa bgtu terasa cepat ku rasakan kehangatan seorang bunda, senyuman terindahnya, kasih sayang tulusnya,,,
begitu besar pengorbananmu untukku bunda,,tapi aku tak dapat membalasnya,,,
love you
miss u
bunda forever
tugirin
yang nunggu siapa tuh?
a2ifin
hmmm bagus
barang siapa yang mengkafirkan oraang mukmin, berarti dia kaafir
arisnb
sungguh indahnya, jika semua dapat saling menghargai antar sesama
miu miu
Semoga setiap muslim bisa memberikan pencitraan yg semakin baik sehingga terbukalah mata dan hati mereka tentang Islam dan Muslim yg sebenarnya sehingga dapat membuktikan bahwa qta tdk seperti yg mereka lihat di berbagai media propaganda yg disebarkan oleh orang2 yg benci Islam.
lukman
ass, mbak, saya mahasisiwa fakultas syari'ah UIn jogja, sedang penelitian ttg Benazir Bhutto, tp saya kekurangan bahan, saya pengen tanya sejauh yg mbak ketahui, pemikiran Benazir dalam kelompok aliran apa?
syaiful
Selamat berpuasa. Lam ma kakak iparmu ya...
sulaiman
ada lagi tak yang lain. ceritanya kok mirip ceritanya oreng pebiyan.dan untuk bulan ini ada lagi tak situsnya,atau lagi sibukya belajar menyulam karpet pakistan.
bahak
salam.. mbak.... kul di pakistan yah? kalau s2 fakultas keagamaan disana persemester berapa yah.....
Apit
Bagus banget mengungkap misteri pencuri kayu jati brkedok dukun,jahat banget,tapi kberadaan alam goib itu memang ada.misteri biarlah tetap misteri dengan begitu lbih menarik.
Faris
Keren banget ceritanya menghayati bgt ei...
Cinta Islam
nice story. seneng ya bisa jalan-jalan ke luar negeri..
cinta
Islam tetap yg terbaik dan paling sempurna.
Isi Komentar :
Syariah dan Perempuan oleh : Aini Aryani, BA., LLB (Hons)
Bolehkah Menggugurkan Janin Hasil Pemerkosaan?
16 Februari 2010
Ustazah,bolehkah melakukan aborsi terhadap janin hasil zina? Karena jika dilahirkan nanti,bayi itu tidak akan dapat cukup kasih sayang, malah mungkin dibenci. Mohon bantu kami mencari solusi terbaik
Fiqih Wanita: Bolehkah Wanita Jadi Pejabat?
08 Februari 2010
Apa benar bahwa satu kaum tidak akan beruntung bila tugas publik diserahkan kepada wanita? Apakah itu berarti wanita tidak boleh menjadi birokrat atau pejabat? Mohon pencerahannya Ustadzah.
arsip - 
............................................................................................................
Kolom Aini
• Aini's Story (3)
• Berita (4)
• Hikmah (3)
• Opini (3)
• Perempuan (6)
• Sastra (8)
Search

-Judul:
Kaidah-Kaidah Fiqih Keuangan dan Transaksi Bisnis
-Penulis:
Prof. Dr. Muhammad Tahir Mansoori
-Penerjemah:
Hendri Tanjung, MM, M.Ag dan Aini Aryani, LLB (Hons)
-Penerbit:
Ulil Albaab Institute (ISBN 978-602-96077)
-Harga:
Rp. 48.900 (ditambah ongkos kirim)