Memori April di Pesawat Thai Bangkok-CGK
Selasa, 23 Juni 2009 - 05:43:59 WIB
by : Aini Aryani
Kategori: Aini's Story
- Dibaca: 801 kali
Tanggal 14 April 2009 lalu, saat dalam perjalanan di dalam pesawat Thai dengan rute Bangkok-Cengkareng, ada pelajaran sangat berharga buat aku dan kita semua. Ketika itu aku bersebelahan dengan seorang wanita setengah baya, usianya kurang lebih 40 tahun. Sebut saja namanya nyonya Samui, seorang wanita karir berkebangsaan Thailand.
Selama perjalanan, awalnya tidak ada percakapan berkesan bersamanya. Hingga saat makan siang tiba dan pramugari cantik mengantarkan makanan kepada kami, nyonya Samui dan aku cukup bersemangat ingin menyantap sajian didepan mata, maklum selama beberapa jam transit di Bangkok aku tidak sempat menelan apapun selain sebungkus kecil pasta/dodol durian Monthong yang kubeli seharga 34 Baht, maklum lagi kanker alias kantong kering, hehehe.
Setelah membaca 'bismillah' dengan singkat dan padat, akupun menyendokkan sesuap nasi ke mulut. Namun, suapanku terhenti ketika mataku menangkap pemandangan yang menurutku berkesan. Nyonya Samui masih belum menyentuh sajian didepannya, dia memejamkan mata sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Ya, sikap tengah berdoa khusyuk. Beberapa saat kemudian beliau menyentuh pelan dahi, bahu kanan dan kiri secara berurutan, membentuk cross sign.
Hmmm, dalam hati aku menggumam, rupanya ia seorang Kristiani taat. yang menarik perhatianku adalah, dua sisi dalam satu pribadi yang jarang ditemui, wanita karir sukses dan taat pada kepercayaannya.
Usai menikmati makan siang, kami terlibat dalam percakapan santai. Beliau bercerita tentang profesinya, dan akupun bercerita dunia Pakistan dimana aku sedang menimba ilmu di bangku kuliah. Singkatnya, kami terlihat lebih rileks dan akrab dari beberapa jam yang lalu. Penampilanku yang memakai jilbab rupanya tidak membuat Nyonya Samui antipati atau sentimen. Sebaliknya, ia sangat menghormati orang muslim.
Usai mengobrol, kami menyalakan TV yang ada didepan mata, TV mungil model screen touch. Aku memilih channel Thailand, sedangkan Nyonya Samui memilih menonton film Hollywood yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio. Sayang sekali aku lupa judul filmnya.
Sesekali aku melirik pada film yang ditonton Nyonya Samui. Rupanya isi film itu berisi tentang konflik antar agama, dimana bebrapa tokoh muslim (yang juga diperankan bintang-bintang Hollywood) diberi karakter ganas dan liar, bahkan Leonardo dibunuh dengan cara biadab, disiksa secara bengis hingga meregang nyawa. Setelah sang korban tewas, adegan selanjutnya adalah teriakan "Allahu Akbar" dari para muslim yang menyiksa Leonardo. Tentu, yang diinginkan oleh pembuat skenario film tersebut adalah ingin menampakkan wajah seram para muslim yang berkarakter teroris.
Selang beberapa waktu, Nyonya Samui menoleh padaku. Dia menampakkan ekspresi ketidaksukaan pada isi film yang ditontonnya, sambil berkomentar pendek: " I don't like the message in that movie, I know that moslems don't have such cruel characters." kira-kira begitu komentarnya.
Nyonya Samui menghormati para pemeluk muslim di negerinya. Saat itu, aku jadi teringat beberapa kawan lamaku yang berasal dari Pattani, sebuah bagian dari Negeri Thailand. Nama mereka adalah Aisyah dan Najlah Hayetahe, santri Gontor Putri asal Pattani Thailand, kami pernah berteman dalam satu marhalah (angkatan) saat nyantri di Gontor, dan sama-sama lulus tahun 2003 lalu. Entah bagaimana kabar mereka kini.
Pelajaran yang aku ambil dari sosok Nyonya Samui adalah sebuah ibroh tentang toleransi beragama. Masih lekat di benak kita bagaimana dahulu Rasulullah SAW dan para shahabat beliau mengamalkan ajaran at-tasamuh ad-dieny atau toleransi beragama. Pada Masa Khalifah Umar Ibn Khattab, ada sebuah masjid di Mesir yang kurang besar dan selalu sesak oleh jamaah sholat, sehingga timbul inisiatif dari seorang gubernur Mesir bernama Amr Bin Ash untuk memperlebar area masjid.
Kebetulan, di salah satu sisi masjid terdapat sebuah rumah milik seorang wanita Nashrani. Amr Bin Ash memerintahkan untuk merubuhkan rumah wanita tersebut dan memperlebar bangunan masjid, dengan memberikan sejumlah kompensasi. Alhasil, wanita Nashrani tersebut mengadu pada Khalifah Umar. Akhirnya Khalifah Umar memerintahkan Amr bin Ash untukmerubuhkan kembali bangunan masjid yang dia tegakkan diatas reruntuhan rumah milik wanita Nashrani itu. Amr Bin Ash-pun mentaati kebijakan sang Khalifah.
Fenomena diatas merupakan sebuah implikasi tentang pentingnya menghargai hak-hak orang lain, meski mereka bukanlah dari golongan kita sesama muslim. Toleransi beragama kadang telah menjadi sebuah kelangkaan tersendiri.
Tidak hanya toleransi beragama yang menjadi langka, namun juga toleransi antar golongan dalam tubuh Ummat Islampun ikut-ikutan menjadi langka. Sebut saja beberapa sengketa yang terjadi di beberapa negeri berpenduduk mayoritas muslim dimana sengketa tersebut distimulasi oleh konflik antar sekte, madzhab, suku dan golongan. Seperti konflik Sunni-Syiah berkepanjangan yang terjadi di Pakistan sejak puluhan tahun yang lalu. Konsekwensi yang harus dibayarpun tidak ringan, nyawa bahkan tak jarang menjadi taruhannya.
Terkadang yang menjadi stimulus pertikaian antar sekte Islam adalah ketika satu golongan mengklaim bahwa hanya golongannya-lah yang paling benar, sedangkan diluar itu sesat dan kafir. Atau ketika satu golongan menjeneralisir vonis sesat atas golongan lainnya. Sebuah vonis yang memukul rata tanpa sebelumnya memilah bagian mana dari golongan lawan yang harus dibenahi dan dijauhi, bukan dijauhi secara fisik, namun jalan pikiran dan paradigma berpikirnya yang membentuk keyakinan menyimpang dari asas-asas Islam yang benar.
Konflik sektarian maupun antar pengikut madzhab yang berbeda tak jarang mewarnai lika liku kehidupan di dunia Muslim. Sebuah konfllik yang menciptakan perang saudara dalam ranah dunia Islam. Sebuah konflik yang mungkin tidak akan terjadi se-naas dan setragis ini seandainya tiap golongan tidak saling menyimpan dendam dan kebencian mendalam pada golongan lainnya. Sebuah konflik yang bisa berubah menjadi perdamaian seandainya Islam dipahami dan dihayati sesuai prinsip-prinsipnya, tanpa didistorsi sedikitpun oleh golongan manapun.
Tepat jam 11.30 Pesawat Thai mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Nyonya Samui dan akupun segera bersiap turun dari pesawat untuk menemui orang-orang tercinta yang telah menunggu kami di luar Airport sana. []
*Sebuah kenangan April 2009
Miss Samui, thanks for such precious 'ibrah'.
Terkait
15 Komentar :
siti khadizah
love you
miss you
bunda forever
siti khadizah
missed u mom.....
kepergian bunda adalah awal dari penderitaanku,,,awal dari tangisan ini, awal dari kesakitan ini,,,
knapa bgtu terasa cepat ku rasakan kehangatan seorang bunda, senyuman terindahnya, kasih sayang tulusnya,,,
begitu besar pengorbananmu untukku bunda,,tapi aku tak dapat membalasnya,,,
love you
miss u
bunda forever
tugirin
yang nunggu siapa tuh?
a2ifin
hmmm bagus
barang siapa yang mengkafirkan oraang mukmin, berarti dia kaafir
arisnb
sungguh indahnya, jika semua dapat saling menghargai antar sesama
miu miu
Semoga setiap muslim bisa memberikan pencitraan yg semakin baik sehingga terbukalah mata dan hati mereka tentang Islam dan Muslim yg sebenarnya sehingga dapat membuktikan bahwa qta tdk seperti yg mereka lihat di berbagai media propaganda yg disebarkan oleh orang2 yg benci Islam.
lukman
ass, mbak, saya mahasisiwa fakultas syari'ah UIn jogja, sedang penelitian ttg Benazir Bhutto, tp saya kekurangan bahan, saya pengen tanya sejauh yg mbak ketahui, pemikiran Benazir dalam kelompok aliran apa?
syaiful
Selamat berpuasa. Lam ma kakak iparmu ya...
sulaiman
ada lagi tak yang lain. ceritanya kok mirip ceritanya oreng pebiyan.dan untuk bulan ini ada lagi tak situsnya,atau lagi sibukya belajar menyulam karpet pakistan.
Afathurohman Hidayat S Putu Wikarta
Assalamualaikum....
bahak
salam.. mbak.... kul di pakistan yah? kalau s2 fakultas keagamaan disana persemester berapa yah.....
Apit
Bagus banget mengungkap misteri pencuri kayu jati brkedok dukun,jahat banget,tapi kberadaan alam goib itu memang ada.misteri biarlah tetap misteri dengan begitu lbih menarik.
Faris
Keren banget ceritanya menghayati bgt ei...
Cinta Islam
nice story. seneng ya bisa jalan-jalan ke luar negeri..
cinta
Islam tetap yg terbaik dan paling sempurna.
Isi Komentar :
Syariah dan Perempuan oleh : Aini Aryani, BA., LLB (Hons)
Suami Mentalak, Saya Menolak, Hukumnya?
25 Maret 2010
Suami membentak saya di depan ibu dengan kata "Aku ceraikan kamu sekarang!!". Tapi saya menolak kata 'cerai' darinya. Bagaimana status pernikahan kami?
Potong Rambut & Kuku Saat Haid, Bolehkah?
23 Maret 2010
Ustadzah, apa sebenarnya hukum memotong rambut dan kuku saat haid? Apa itu wajib, Sunnah, atau? mohon penjelasannya. Terimakasih.
arsip - 
............................................................................................................
Kolom Aini
• Aini's Story (3)
• Berita (4)
• Hikmah (3)
• Opini (3)
• Perempuan (6)
• Sastra (8)
Search

-Judul:
Kaidah-Kaidah Fiqih Keuangan dan Transaksi Bisnis
-Penulis:
Prof. Dr. Muhammad Tahir Mansoori
-Penerjemah:
Hendri Tanjung, MM, M.Ag dan Aini Aryani, LLB (Hons)
-Penerbit:
Ulil Albaab Institute (ISBN 978-602-96077)
-Harga:
Rp. 48.900 (ditambah ongkos kirim)